Pemimpin Bermental Kewirausahaan (Bagian 1)

Paradigma bisnis terus bergeser, mengikuti jaman yang kian berkembang. Jika abad ke-20 bisnis lebih terkesan stabil dan mudah diprediksi, namun di abad ke-21 ini usaha cenderung susah di perkirakan. Kehebatan bisnis tidak lagi semata-mata didasarkan pada ukuran dan skala perusahaan, tapi lebih pada responsibilitas dan kecepatan bergeraknya.

Begitupun pergeseran pola membangun manajemen bisnis, kini dibutuhkan pola leadership yang sangat berbeda. Sebelumnya bisnis bisa dilakukan dengan metode kepemimpinan hirarkis dan pengendalian lewat peraturan-peraturan. Sekarang kepemimpinan dituntut lebih luwes, tidak kaku selalu harus dengan sistem garis komando.

Kini dibutuhkan pemimpin-pemimpin bisnis bermental kewirausahaan, para pemimpin yang mampu menginspirasi kebermaknaan bisnis. Bisnis harus mampu memberi manfaat tidak hanya untuk share holdernya, namun juga karyawan, mitra bisnis dan konsumennya.

Beberapa kali sempat terlontar ketika saya mengisi seminar yang poinnya menanyakan; “Bagaimana cara memimpin usaha yang ideal?” Ada beberapa catatan yang sempat saya buat berdasar pengalaman saya selama ini.

Yang jelas, kini entrepreneur yang sekaligus pemimpin dalam usahanya sendiri menghadapi situasi sekarang dituntut terus bergerak cepat, lebih proaktif, dan lebih berani mengelola risiko. Dengan demikian, sebagai pelaku bisnis kita akan lebih mudah mengantisipasi kemungkinan munculnya berbagai kendala usaha yang mungkin terjadi. Bukan bersikap reaktif dan menghindari risiko.

Beberapa cara memimpin dengan sikap proaktif. Pertama, jadilah panutan. Sadar atau tidak seorang pimpinan oleh bawahan atau karyawannya akan dijadikan sebagai panutan. Panutan disini bukan sekedar menyangkut pengetahuan praktis, hubungan emosional, kekeluargaan, maupun kekerabatan. Namun jauh dari itu semua, yakni ditentukan sejauh mana ia mampu memberikan contoh dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Seorang pemimpin berkualitas berani bertanggung jawab atas apa yang dikatakan dan dilakukannya. Sehingga ia harus tahu betul perilaku-perilaku yang seharusnya dilakukan dan tidak. Bila ini berhasil maka berdampak pada bawahan yang dalam hal ini adalah anggota tim kerjanya, karena ia dinilai tidak cuma berkualitas dari sisi pekerjaan tetapi juga dari sisi pribadi. Dan ini pasti akan memberi banyak keuntungan bagi bisnis yang digeluti lantaran rencana-rencana praktis akan lebih mudah di sosialisasikan.

Kedua, seorang pemimpin harus mampu menjadi motivator. Seorang pemimpin berkualitas mustilah mampu menjadi penguat bagi karyawannya. Ketika orang-orang yang dipimpinnya mengalami kebingungan dan kehausan semangat, pemimpin dituntut senantiasa harus tahu. Ia musti segera tampil menjadi pendorong bagi bawahan agar tetap pada performanya.

Untuk menjadi motivator yang baik, ia harus memahami betul waktu dan cara memotivasi anggota timnya. Pemimpin jenis ini akan selalu ditunggu kehadirannya untuk memompa semangat kerja dalam mewujudkan target yang hendak dicapai. Ia bisa menjadi pencerah bagi lingkungan bisnisnya. Sekali waktu, perusahaan bisa juga mendatangkan motivator dari luar dan ini juga sudah jamak dilakukan oleh usaha-usaha kelas mikro, kecil. (bersambung)

- iLik sAs -

No comments:

Post a Comment